Sesubur Tandur, Tan Karep Misuwur
Orang Jawa sudah lama punya pegangan hidup: sesubur tandur, tan karep misuwur. Tumbuh subur seperti tanaman, tapi tidak ingin populer. Sebuah nasihat yang tampaknya sudah tidak lagi menarik bagi sebagian pejabat. Termasuk di Pati.
Hari-hari ini, masyarakat justru menyaksikan kebalikannya. Ada yang begitu ingin dikenal. Ada yang begitu ingin tampil beda dari yang pernah ada. Begitu ingin disebut. Begitu ingin menunjukkan kuasa. Bukan seperti padi yang menunduk, tapi lebih mirip rumput liar yang tumbuh cepat, menjalar ke mana-mana, dan tak segan menutupi tanaman lain.
Lihat saja. Kebijakan diambil secara serampangan, disampaikan dengan narasi yang arogan. Masukan dan kritik dijawab dengan gertakan. Orang-orang yang tidak sejalan disingkirkan. Seolah popularitas lebih penting daripada keberkahan kebijakan. Seolah yang diburu bukan manfaat, tapi sorot cahaya.
Padahal, bukankah kekuasaan itu seperti sawah? Ada masanya digarap, ada masanya panen. Dan ketika panen, siapa yang diingat bukan siapa yang paling keras bicara, melainkan siapa yang benar-benar menanam dengan hati.
Orang lupa, kekuasaan itu bukan warisan. Ia hanya singgah.
Dan ketika pergi, yang akan dikenang bukan siapa yang paling keras bicara, melainkan siapa yang diam-diam bekerja.
Tapi, ada yang memilih jalan berbeda.
Lebih suka misuwur ketimbang tandur.
Lebih suka ditakuti ketimbang dirindukan.
Lebih suka berkuasa ketimbang berguna.
Padahal sejarah mencatat: pemimpin yang sibuk menebar ketakutan akan cepat dilupakan.
Yang abadi justru mereka yang bekerja dalam diam, yang menanam dalam sunyi.
Pemimpin atau pejabat mestinya belajar dari petani. Mereka bekerja dalam diam. Keringatnya mengucur di sawah, bukan di podium. Mereka tak butuh panggung untuk terlihat berjasa. Yang mereka pikirkan sederhana: bagaimana padi bisa tumbuh, bagaimana perut orang bisa kenyang.
Subur. Tapi tidak ingin misuwur.
Rakyat tidak butuh pemimpin yang keras di ucapan tapi kering di keteladanan. Tidak butuh pemimpin yang lebih senang tampil gagah daripada menunduk rendah. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang diam-diam bekerja, tapi hasilnya nyata.
Pepatah Jawa itu sebenarnya bisa jadi cermin. Sesubur tandur, tan karep misuwur.
Wejangan lama yang mungkin sudah dianggap usang. Tapi justru di situlah letak ketegasannya:
bahwa keangkuhan boleh tampak gagah hari ini, tapi besok akan habis ditertawakan rakyatnya sendiri.
ALI ACHMADI, Praktisi Pendidikan, Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Pati.