Bisakah Ikatan Ibu dan Janin Diukur Sejak Hamil? Peneliti Pati Kembangkan Modelnya
PATI – Banyak orang menganggap pemeriksaan kehamilan hanya soal mengecek tekanan darah, berat badan, pertumbuhan janin, atau memastikan kondisi ibu tetap sehat. Padahal, selama sembilan bulan kehamilan ada hal penting lain yang juga tumbuh, yaitu ikatan emosional antara ibu dan bayi yang masih berada di dalam kandungan.
Lalu, bisakah kedekatan antara ibu dan janin itu diketahui atau bahkan dinilai sejak masa kehamilan?
Pertanyaan inilah yang mendorong Ana Rofika, peneliti asal Pati yang sedang menempuh Program Doktor Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES), melakukan penelitian mengenai hubungan emosional ibu dan janin.
Melalui penelitian disertasinya, Ana mengembangkan sebuah cara untuk membantu tenaga kesehatan melihat bagaimana kedekatan seorang ibu dengan bayi yang dikandungnya. Penelitian tersebut berjudul “Model Penilaian Maternal Fetal Attachment dalam Upaya Mendukung Kesehatan Ibu Hamil di Fasilitas Layanan Kesehatan Primer.”
Istilah Maternal Fetal Attachment atau MFA mungkin masih terdengar asing bagi masyarakat. Sederhananya, MFA adalah ikatan perasaan antara ibu dengan bayi yang masih berada di dalam kandungan. Ikatan itu dapat terlihat dari hal-hal sederhana yang dilakukan ibu setiap hari. Misalnya berbicara dengan bayi, mengelus perut, merespons gerakan janin, menjaga pola makan, rutin memeriksakan kehamilan, serta mulai mempersiapkan diri menjalani peran sebagai seorang ibu.
Berawal dari Kondisi Ibu Hamil di Pati
Penelitian ini berawal dari pengamatan Ana terhadap pelayanan ibu hamil di sejumlah puskesmas di Kabupaten Pati. Pada survei awal yang dilakukan di lima puskesmas, ditemukan bahwa pembahasan mengenai hubungan emosional antara ibu dan janin belum menjadi bagian khusus dalam pemeriksaan kehamilan.
Ibu hamil yang diwawancarai juga mengaku belum mengetahui apa itu MFA dan belum pernah mendapatkan penjelasan khusus mengenai cara membangun kedekatan dengan bayi sejak dalam kandungan.
Menurut Ana, pemeriksaan fisik tentu tetap sangat penting. Namun, kehamilan bukan hanya perubahan fisik. Ibu juga mengalami perubahan perasaan, kekhawatiran, kecemasan, dan proses menyiapkan diri menjadi orang tua. Karena itu, perhatian terhadap kondisi emosional ibu dinilai perlu berjalan beriringan dengan pemeriksaan kesehatan kehamilan.
Ternyata Banyak Ibu Belum Memiliki Ikatan yang Kuat
Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa 70 persen ibu hamil yang diteliti memiliki tingkat ikatan ibu dan janin yang masih rendah, sementara 63,3 persen mengalami kecemasan pada tingkat sedang.
Temuan inilah yang memperkuat alasan perlunya perhatian terhadap hubungan ibu dan janin sejak masa kehamilan.
Ana kemudian mengembangkan model yang dapat digunakan bersamaan dengan pemeriksaan kehamilan di puskesmas. Artinya, ibu hamil tidak perlu datang ke layanan khusus atau menjalani pemeriksaan baru yang rumit.
Model tersebut justru dirancang agar bisa menjadi bagian dari pelayanan kehamilan yang sudah berlangsung.
Tidak Hanya Dinilai, Ibu Juga Mendapat Pendampingan
Jika dari penilaian diketahui seorang ibu membutuhkan perhatian lebih, tenaga kesehatan dapat memberikan penjelasan dan pendampingan sesuai kebutuhannya.
Ibu juga mendapatkan informasi mengenai cara membangun kedekatan dengan janin di rumah. Dalam model ini, suami dan keluarga juga ikut didorong untuk memberikan dukungan kepada ibu hamil.
Dukungan itu bisa berupa hal sederhana, seperti menemani pemeriksaan kehamilan, membantu ibu merasa tenang, mengingatkan untuk menjaga kesehatan, atau ikut berkomunikasi dengan bayi yang masih berada dalam kandungan. Agar lebih mudah diterapkan, penelitian ini juga menghasilkan berbagai media pendukung berupa buku saku, booklet untuk ibu hamil, panduan bagi bidan, kartu pemantauan, serta video edukasi.
Dalam kartu pemantauan, misalnya, ibu dapat mencatat kegiatan sederhana seperti berbicara dengan bayi, mengelus perut, merespons gerakan janin, melakukan afirmasi positif, dan mendapatkan dukungan dari keluarga.
Diuji pada 200 Ibu Hamil
Setelah melalui tahap pengembangan dan uji awal, model tersebut kemudian diuji lebih luas dengan melibatkan 200 ibu hamil, terdiri atas 100 ibu yang mendapatkan pelayanan dengan tambahan model MFA dan 100 ibu yang mendapatkan pelayanan kehamilan seperti biasa.
Sebanyak 30 bidan juga dilibatkan untuk melihat apakah model tersebut dapat digunakan dalam pelayanan sehari-hari.
Hasilnya menunjukkan perubahan yang lebih besar pada kelompok ibu yang mendapatkan pendampingan melalui model MFA.
Pada kelompok tersebut, jumlah ibu dengan ikatan ibu dan janin kategori tinggi meningkat dari 37 persen menjadi 72 persen. Pada kelompok yang mendapatkan pelayanan biasa, peningkatannya dari 35 persen menjadi 45 persen.
Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan peningkatan pada indikator kesehatan ibu yang lebih besar pada kelompok yang mendapatkan model tersebut dibandingkan kelompok pelayanan biasa.
Bidan Menilai Bisa Diterapkan di Pelayanan Kehamilan
Hal menarik lainnya, seluruh bidan yang terlibat dalam uji lapangan menilai model ini dapat digabungkan dengan pelayanan pemeriksaan kehamilan yang sudah ada.
Sebanyak 29 dari 30 bidan juga menyatakan bahwa hasil penilaian membantu mereka memberikan konseling yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing ibu.
Dengan demikian, bidan tidak hanya mengetahui kondisi fisik ibu, tetapi juga mempunyai gambaran mengenai kondisi emosional serta hubungan ibu dengan bayi yang dikandungnya.
Model tersebut juga dirancang agar tidak membuat antrean atau pelayanan baru yang terpisah. Penilaian, edukasi, pendampingan keluarga, serta pemantauan dilakukan sebagai bagian dari rangkaian pemeriksaan kehamilan yang sudah berjalan.
Dibimbing Tiga Dosen UNNES
Dalam menyelesaikan penelitian disertasinya, Ana Rofika dibimbing oleh tiga dosen dari Universitas Negeri Semarang, yaitu Prof. Dr. Heny Setyawati, M.Si. sebagai Promotor, dr. RR. Sri Ratna Rahayu, M.Kes., Ph.D. sebagai Ko-Promotor, dan Dr. Sofwan Indarjo, S.KM., M.Kes. sebagai Anggota Promotor.
Ana berharap hasil penelitiannya dapat ikut memperluas cara pandang terhadap pelayanan ibu hamil.
Menurutnya, menjaga kesehatan selama kehamilan tidak cukup hanya dengan memastikan kondisi fisik ibu dan janin dalam keadaan baik. Perasaan ibu, ketenangan selama hamil, dukungan keluarga, serta hubungan yang mulai tumbuh antara ibu dan bayinya juga menjadi bagian penting dari perjalanan kehamilan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa membangun kedekatan dengan bayi tidak harus menunggu setelah bayi lahir.
Hal-hal sederhana seperti mengajak bayi berbicara, menyentuh perut dengan penuh perhatian, merespons gerakannya, menjaga kesehatan, dan melibatkan keluarga dapat menjadi bagian dari proses membangun hubungan ibu dan anak sejak masih berada di dalam kandungan.
Karena pada akhirnya, kehamilan bukan hanya tentang menunggu seorang bayi lahir. Di dalamnya juga sedang tumbuh sebuah hubungan antara seorang ibu dan anaknya.
